Senin, 07 November 2016

Mari Mewarnai Perekonomian

Bulan Sensus Ekonomi (Mei 2016) telah berlalu. Ribuan petugas telah dikerahkan oleh BPS untuk memotret wajah perekonomian negeri. Bukan berarti kita tidak punya potret tersebut, bukan pula karena potret yang kita punya sudah usang dan buram. Pemerintah berharap, dengan Sensus Ekonomi akan didapat potret yang lebih detail. Ibarat kamera yang canggih dengan resolusi dan kecepatan yang semakin baik menjepret dalam sekali “klik”. Lantas apa yang akan tersirat jika potret tersebut sudah tercetak dan bisa kita pandangi ? Setidaknya akan terlihat semburat warna yang muncul, mungkin mencerahkan atau justru menambah kusam. 17 (tujuh belas) kategori sektor ekonomi dalam System National Account (SNA) yang dapat dianalogikan sebagai pixel pada ketinggian resolusi kamera; akan mengilustrasikan warna-warni perekonomian. Ketujuhbelas kategori itupun sejatinya masih bisa di break-down menjadi lebih dari 50 (lima puluh) sub kategori sehingga warna-warninya akan semakin terlihat “meriah”.
BPS dengan sensus-nya; sama halnya dengan seorang photographer dengan kamera-nya; hanya berusaha “memotret” pada waktu tertentu sesuai amanat, dan Undang-undang lah yang mengamanatkan BPS. Potret pun akan menjepret apa adanya. Lalu siapakah yang telah meng-“create” perwajahan model dalam potret tersebut ? Pastilah sang kreator penciptanya.
Potret perekonomian dengan segala coraknya telah di create sedemikian rupa dalam kurun waktu periode sebelum “pemotretan”. Ekonomi tumbuh dan berkreasi dibingkai oleh aturan dan kebijakan pemerintah yang berkuasa. Sebagai pelaku ekonomi, berkreasi dalam pewarnaan corak perekonomian suatu daerah adalah sebuah upaya memperindah tampilan perwajahan potret ekonomi dimaksud. Kategori tertentu menuntut peran besar pemerintah untuk mengkondisikan situasi kondusif bagi para pelaku ekonomi. Sementara kategori yang lain mungkin justru kebalikannya, tidak menuntut peran pemerintah dan sangat mudah dimasuki pelaku ekonomi. Sebuah sistem perekonomian yang terbuka sebagaimana banyak ditemukan pada saat ini memang cenderung lebih banyak mengedepankan peran swasta. Namun sebagai penentu kebijakan, setidaknya pemerintah seharusnya mengambil peran untuk mengarahkan pasar pada persaingan sempurna dan memiliki visi mensejahterakan masyarakat luas.
Potret ekonomi Provinsi Jambi yang ter-update (BPS,feb-2016) tampil dengan perwajahan yang terlihat “kurang menarik”. Setidaknya hanya terdapat 4 (empat) warna yang mendominasi 70 persen pewarnaan corak ekonomi. Jika dimisalkan, ke-empat warna tersebut adalah hijau untuk kategori pertanian (±30%), biru untuk kategori pertambangan (±17%), kuning untuk kategori industri (±11%) dan orange untuk kategori perdagangan (±12%). Bisa dibayangkan bagaimana wajah Jambi dengan dominasi ke-empat warna tersebut, sementara sisanya (±30%) berbias gradasi 13 warna kategori lain-nya. Rupawan-kah ? Cantik-kah ? Para ahli ekonomi  yang mampu member penilaian, seperti ahli seni lukis menilai sebuah lukisan.
Wajah kabupaten/kota dalam potret perekonomian bahkan terlihat tidak lebih menarik dibanding wajah provinsi sebagai induknya. Sebuah kabupaten/kota terkadang hanya didominasi oleh satu atau dua warna saja. Potensi sumberdaya alam merupakan modal dasar pembangunan perekonomian suatu wilayah, dan menjadi faktor penentu pewarnaan corak perekonomian. Sumberdaya alam merupakan warna dasar perekonomian suatu wilayah yang dapat diolah menjadi aneka warna baru perekonomian. Kapabilitas sumberdaya manusia lah yang akan menjadi faktor penentu pemunculan warna baru perekonomian tersebut. Kombinasi antara pemanfaatan sumberdaya alam dan kemampuan sumberdaya manusia akan menghasilkan gradasi warna perekonomian suatu wilayah.
Pemerintahan sebelumnya telah membingkai perekonomian dalam kebijakan sesuai visi-misi yang dulu mereka janjikan dan hasilnya terlihat sebagaimana potret ekonomi yang terpajang dengan figura yang mereka pilih. Bagai sebuah lukisan menunggu penikmat seni menawarnya dengan harga tertinggi, maka siapa yang berminat dan ber-uang lah yang akan mengoleksinya. Tentu sebuah harga yang pantas akan diberikan sesuai nilai seni yang ditonjolkan. Jambi yang bernilai, akan mengundang investor untuk memberi warna dalam perekonomiannya. Warna yang diharapkan mampu lebih memperindah, mencerahkan dan menaikkan level ekonomi.
Pasca rilis data Sensus Ekonomi 2016 akan terlihat potret terbaru perekonomian Provinsi Jambi dengan segala warna-warni yang ada. Pemerintahan saat ini tentu akan membingkainya dalam regulasi dan kebijakan sesuai visi-misi yang kemarin mereka janjikan untuk dituntaskan. Kabinet kerja profesional tentu akan mendengarkan pandangan para ahli yang berkompeten menilai potret terbaru tersebut. Beberapa  “pengarah gaya” tentu akan memberi pandangan agar model dalam potret tersebut menjadi semakin terlihat anggun dan exclusive sehingga menaikkan nilai jual.
Perubahan corak perekonomian dalam ilmu ekonomi dikenal dengan transformasi struktural. Perubahan yang terjadi semestinya tidak hanya terjadi dalam struktur ekonomi tetapi juga dalam struktur ketenagakerjaan. Arah perubahan struktur ekonomi di Provinsi Jambi tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan. Semestinya ekonomi bergeser dari dominasi sektor primer ke sektor sekunder dan berlanjut ke sektor tersier, namun yang terjadi adalah kembalinya dominasi primary sector kedalam struktur perekonomian setelah de-industrialisasi. Bagai lukisan abstrak-kah ekonomi Jambi ? Waktulah yang akan menunjukkan kemana aliran pelukis-pelukis ekonomi Jambi berkiblat; naturalis-kah, surealis-kah atau aliran yang lain.
Penulis mengajak kita semua, ikut berpartisipasi mewarnai perekonomian, sebagai pelaku ekonomi; konsumen, produsen dan tentu saja pemerintah. Untuk Jambi yang lebih berwarna, untuk Jambi yang lebih baik.

di posting dalam rubrik Ragam, mediajambi 3 september 2016 (mediajambi)

Jumat, 02 September 2016

Pola Pertumbuhan Ekonomi (triwulanan) Provinsi Jambi

laju pertumbuhan year on year (YoY) adalah membandingkan nilai (PDRB) triwulan berjalan terhadap nilai (PDRB) triwulan yang sama pada tahun sebelumnya atas dasar harga konstan tahun dasar (2010=100)
laju pertumbuhan quarterly to quarterly (q to q) adalah membandingkan nilai (PDRB) triwulan berjalan terhadap nilai (PDRB) triwulan sebelumnya atas dasar harga konstan tahun dasar (2010=100)
 
PDRB Provinsi Jambi triwulan kedua tahun 2016 dibandingkan triwulan yang sama (trw-ii) tahun 2015 tumbuh sebesar 3,57 persen (yoy) dan tumbuh 1,77 persen (q to q) jika dibandingkan dengan triwulan pertama tahun 2016

dengan mempelajari pola pertumbuhan triwulanan, maka kinerja perekonomian pada periode berikutnya akan memungkinkan untuk diestimasi. Model proyeksi kecenderungan (trend) dapat disusun dengan berbagai asumsi 

Rabu, 16 Maret 2016

IPM Provinsi Jambi (Metode Baru)

UNDP sudah merubah metodologi penghitungan IPM sejak th 2010 dan direvisi tahun 2011. Beberapa negara telah lebih dulu mengaplikasikan; termasuk India dan Filipina yang  telah memulai mengaplikasikan metode baru. India mengaplikasikan metode baru mulai tahun 2011.
IPM kab/kota di Provinsi Jambi (metode lama)

IPM kab/kota di Provinsi Jambi (metode baru)

Peta Tematik IPM Kab/Kota se-Provinsi Jambi 2014

 

 

Jumat, 19 Februari 2016

Kinerja Perekonomian Provinsi Jambi 2015



  • PDRB Provinsi Jambi Tahun 2015 atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 155.110.347,65 (juta) dan jika dinilai atas dasar harga konstan (2010=100) maka nilainya menjadi Rp. 125.038.712,62 (juta)
  • Nilai tersebut memberikan kontribusi sekitar 6 persen terhadap total PDRB se-Sumatera atau kurang lebih 1,3 persen terhadap PDB Indonesia
  • Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi tahun 2015 cenderung melambat, bahkan dapat dikatakan sangat lambat karena pada periode sebelumnya pertumbuhan ekonomi selalu berada pada kisaran angka 7 persen pertahun
  •  Tren perlambatan laju pertumbuhan ekonomi terpantau dari angka PDRB triwulanan (y o y)
  • Perlambatan ekonomi yang terjadi terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor terkait pangsa pasar komoditi ekspor Provinsi Jambi yang sangat dipengaruhi oleh faktor permintaan (demand side). Disamping itu juga disebabkan rendahnya daya serap anggaran pemerintah.
  • Pola pertumbuhan menunjukkan bahwa triwulan kedua (q to q) merupakan puncak kinerja perekonomian yang biasanya terjadi setiap tahunnya di Provinsi Jambi
  • Struktur ekonomi Provinsi Jambi terutama ditopang oleh 4 kategori; A (Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan), B (Pertambangan dan Penggalian), C (Industri Pengolahan) dan G (Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor), kontribusinya mencapai hampir 70 persen terhadap total PDRB Provinsi Jambi

Rabu, 11 Maret 2015

Bisakah Jambi Lebih Baik (lagi) ?

Tidak ada yang tidak mugkin untuk dapat terjadi jika Yang Maha Kuasa menghendaki. Tetapi jika “penguasa” yang menghendaki tentulah belum pasti terjadi. Suksesi kepemimpinan Negeri Jambi menyanyikan tema perbaikan negeri dengan mengusung janji menjadi lebih baik. Lagu para calon pemimpin yang terdengar relatif senada, meskipun belum dapat dipastikan apakah syairnya menyiratkan kesungguhan atau hanya kepura-puraan.
Berita Resmi Statistik yang dirilis oleh BPS tentang kinerja perekonomian Provinsi Jambi mengatakan bahwa ekonomi Jambi tumbuh sebesar 7,9 persen pada tahun 2014, sebuah pencapaian yang cukup fantastis untuk sebuah perekonomian. Bahkan secara eksplisit disebutkan sebagai sebuah kinerja positif yang terus terjaga dalam kurun lima tahun terakhir (sub judul BRS BPS Provinsi Jambi, No.11/02/15/Th.IX). Jika ini dianggap sebagai sesuatu yang sudah baik, pertanyaan yang sama dengan judul tulisan ini patut diulangi, bisakah Jambi lebih baik (lagi) ?
Kinerja perekonomian yang diukur dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setidaknya bisa dikupas lebih dalam menurut masing-masing komponen penyusunnya. PDRB dapat dihitung melalui 3 pendekatan; pendekatan produksi (production approach), pendekatan pengeluaran (expenditure approach), dan pendekatan pendapatan (income approach). Mulai tahun ini BPS merilis hasil perhitungan PDRB sisi produksi berbasis System National Account (SNA) 2008. Pertanian (secara umum) merupakan kategori lapangan usaha yang menjadi sumber pertumbuhan (source of growth) utama (3,3 persen) ekonomi Jambi tahun 2014, disusul Pertambangan (1,1 persen) dan Perdagangan (0,9 persen). Pertanian maupun Pertambangan memang merupakan dua kategori yang memiliki kontribusi besar dalam struktur ekonomi Jambi selama ini, namun yang patut menjadi perhatian adalah kecenderungan Pertambangan menggeser Pertanian. Ketahanan pangan menjadi sebuah hal tersendiri didalam Pertanian yang harus diwaspadai. Andil Perdagangan terlihat mulai menggerus peranan Industri.
Diduga adanya suatu korelasi positif antara pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi. Pertumbuhan yang berkesinambungan dalam jangka panjang akan membawa perubahan ekonomi lewat efek dari sisi permintaan dan pada gilirannya perubahan tersebut akan menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi. Teori tentang transformasi struktur ekonomi bisa menjawab pertanyaan kita, BPS bahkan menyediakan indikator ketenagakerjaan sebagai data pelengkap (angka pengangguran, misalnya).
Transformasi struktural merupakan proses perubahan struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri atau jasa dan masing-masing perekonomian/negara akan mengalami transformasi yang berbeda-beda. Transformasi struktural adalah gejala ilmiah yang harus dialami oleh setiap perekonomian yang sedang tumbuh. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan struktural sangatlah berbeda untuk masing-masing wilayah. Perubahan struktural bisa disebabkan antara lain oleh dampak dari suatu kebijakan, perubahan sumber daya, penduduk maupun keadaan sosial yang sifatnya permanen. Proses transformasi struktural yang terjadi di Indonesia merupakan hasil dari penerapan kebijakan pembangunan jangka panjang yang terencana. Kebijakan rekayasa transformasi struktural diperlukan untuk memaksimalkan dampak positif dari transformasi tersebut dalam perekonomian.
Banyak yang sependapat bahwa salah satu syarat perlu (necessary condition) untuk dapat dicapainya transformasi struktural dari pertanian (primer) ke industri manufaktur (sekunder) adalah adanya keterkaitan sektor pertanian dan sektor industri yang tangguh (Kuncoro 1996). Implikasi penting dari model perubahan struktural Gollin et al. (2002) yang merupakan pengembangan dari model pertumbuhan neoklasik adalah bahwa pertumbuhan produktivitas sektor pertanian merupakan kunci penting proses pertumbuhan.
Data pada level nasional menunjukkan, pergeseran struktur PDB tidak diikuti perubahan pangsa tenaga kerja sehingga transformasi struktural perekonomian Indonesia tidak sebaik negara-negara berkembang lainnya. Perkembangan struktur tenaga kerja di Indonesia menunjukkan pola yang tidak biasa (unusual pattern) dan bertentangan dengan teori perkembangan tenaga kerja. Tinjauan tentang tingkat produktifitas tenaga kerja memberikan justifikasi kesimpulan atas apa yang terjadi bahwa sebenarnya tenaga kerja yang bergeser dari sektor pertanian tidak beralih ke sektor yang produktifitasnya lebih tinggi. Hal yang sama sepertinya terjadi juga di Jambi.
Pendekatan lain perhitungan PDRB; menurut pengeluaran, menunjukkan bahwa komponen konsumsi rumahtangga adalah sumber pertumbuhan utama yang menggerakkan perekonomian (2,0 persen) diiringi konsumsi pemerintah (1,7 persen). Perhatikan kedua komponen tersebut dalam persamaan makro ekonomi (biasa dituliskan sebagai C dan G) dimana Y=C+G+I+NX. Harapan untuk menjadikan komponen pembentukan modal tetap bruto (I) maupun ekspor netto (NX) sebagai sumber pertumbuhan utama masih menuntut kinerja yang lebih baik. Penciptaan iklim investasi dan ekspansi ekspor masih sangat dibutuhkan.
Tabel Input Output menjadi salah satu alat untuk melihat PDRB dari sisi pendapatan. Data terakhir menyebutkan bahwa jika dilihat dari balas jasa faktor produksi yang diterima, surplus usaha merupakan komponen dengan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB. Pertanyaannya adalah siapakah pelaku usaha yang menerima balas jasa tersebut ? Data ketenagakerjaan lah yang bisa menjawabnya. Jika sebagian besar masyarakat Jambi merupakan pelaku usaha sebagaimana dimaksud maka sangatlah elok. Namun jika sebagian besar masyarakat ternyata masih mengandalkan upah/gaji, sungguh sangat disayangkan karena komponen ini masih kecil kontribusinya dalam pembentukan PDRB sisi pendapatan.
Mengiringi data PDRB, gambaran kondisi ekonomi konsumen dapat dilihat dari angka Indeks Tendensi Konsumen (ITK). Indeks ini dihitung setiap triwulan untuk menggambarkan tingkat optimismen konsumen terhadap perekonomian pada triwulan berjalan. Variabel pembentuk ITK terdiri atas; pendapatan rumah tangga, kaitan inflasi terhadap konsumsi, serta tingkat konsumsi beberapa komoditi.
Sejak pertama kali diluncurkan (triwulan I tahun 2011) sampai triwulan IV tahun 2014, ITK provinsi Jambi selalu berada di level optimis (diatas angka 100). Hal ini menunjukkan bahwa konsumen di Jambi cenderung untuk selalu optimis melihat perekonomian. Pendapatan bukanlah hal yang membayangi optimisme konsumen, naik turunnya harga juga tidak menjadi persoalan serius yang mempengaruhi konsumsi. Pola konsumsi konsumen di Jambi pun ternyata cukup fleksibel untuk menyesuaikan.
Tendensi konsumen di Jambi memperlihatkan pola seasonal, perlahan meningkat dari triwulan pertama ke triwulan kedua dan mencapai puncak pada triwulan ketiga, selanjutnya sedikit menurun di triwulan keempat, namun kesemuanya masih di level optimis.
Optimisme konsumen yang sedemikian menjanjikan, ditengah kinerja perekonomian yang sedemikian rupa menantikan kepemimpinan cerdas dengan ide-ide bernas untuk Jambi yang lebih baik (lagi). Sekali lagi kita kembali bertanya, bisakah ?! Silahkan, anda pasti tahu jawabannya. publish@jambiekspres
dimuat dalam OPINI harian Jambi Ekspres, Rabu 11 Maret 2015

Jumat, 27 Februari 2015

"dikutip", terimakasih !


Ekonomi Jambi Tumbuh 9,1 %, Tertinggi Se-Sumatera, oleh Vitri Andani

Penentuan Indeks Demokrasi Jambi 2009 - 2013, oleh Kasang Dalam

Pertanian Serap Tenaga Kerja Terbesar, oleh Berita3


Jumat, 20 Februari 2015

Petani : Miskin Multi Dimensi

Pengusahaan tanaman perkebunan kian menjadi primadona sektor pertanian di Provinsi Jambi. Hasil sensus pertanian terakhir menyebutkan 68,95 persen rumah tangga pertanian masih mengandalkan sumber pendapatan dari subsektor perkebunan. Sementara 13,60 persen rumah tangga pertanian justru mengandalkan sumber pendapatan dari non pertanian dan sisanya (di bawah 10 persen) ditopang pertanian lain selain perkebunan. Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menyebutkan terdapat beberapa jenis tanaman perkebunan unggulan. Tanaman tersebut antara lain adalah karet, kelapa sawit, kelapa, kopi, kayu manis, pinang dan nilam termasuk juga teh yang dikelola oleh PTPN-VI. Dari sisi luas areal, tanaman yang mengalami peningkatan adalah kelapa sawit dan karet, sedangkan tanaman unggulan lainnya cenderung mengalami penyusutan.
Jika dilihat dari sisi luasan areal tanaman menghasilkan (TM), kelapa sawit adalah tanaman perkebunan unggulan yang luas areal TM-nya terus bertambah. Pertambahan luas areal TM juga terjadi pada tanaman karet yang menunjukkan adanya kegiatan peremajaan. Fluktuasi terjadi pada pertambahan luas areal TM kelapa, kayu manis maupun kopi. Kopi menunjukkan kecenderungan menurun, sementara kayu manis dan  kelapa cenderung meningkat. Sementara jika dilihat dari sisi produksi, kelapa sawit, kopi dan kayu manis merupakan tiga jenis tanaman yang mengalami pertumbuhan produksi cukup pesat. Kontribusi subsektor perkebunan dalam pembentukan nilai tambah bruto sektor pertanian meningkat dari 39,88 persen di tahun 2003 menjadi lebih dari 55,25 persen pada tahun 2013.
Tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi mendapatkan upah sebagai balas jasa. Meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB masih merupakan yang terbesar namun penumpukan tenaga kerja yang terjadi mencerminkan tingkat produktivitasnya yang relatif rendah. Sektor pertanian yang sudah semakin kecil peranan relatifnya dalam pembentukan PDRB masih harus menampung sebagian besar tenaga kerja. Kondisi ini kemungkinan justru dipicu oleh rendahnya produktivitas tenaga kerja sektor pertanian yang menjadikannya fleksibel sebagai penampung tenaga kerja yang kurang mampu bersaing untuk masuk ke dalam pasar kerja di sektor lain.  Pertanian menampung sebagian besar angkatan kerja yang bekerja. Lebih dari 50 persen angkatan kerja, bekerja diberbagai subsektor dalam sektor pertanian. Karakteristik sektor pertanian yang sangat mudah untuk dimasuki oleh pekerja menjadikannya sebagai wadah terbesar tenaga kerja. Tidak mensyaratkan tingkat pendidikan yang tinggi,  tidak butuh keahlian khusus, responsif terhadap gender dan menyediakan kapasitas besar, merupakan faktor penyebab sektor pertanian masih menjadi andalan penggerak perekonomian.
Pendapatan dari sektor pertanian harus mencukupi kebutuhan hidup petani, sehingga keberlangsungan produksi pertanian dapat dipertahankan. Apabila pendapatan yang diterima rumah tangga usaha pertanian jauh dari yang mereka harapkan maka akan ada kemungkinan mereka mencari sumber pendapatan dari sektor lain yang mengakibatkan terhentinya produksi dan menurunnya pertumbuhan pertanian. 
Tingkat kecukupan pendapatan rumah tangga usaha pertanian di provinsi Jambi dari hasil Survey Pendapatan Petani berada di level yang bagus, hal tersebut dapat dilihat dari angka tingkat kecukupan yang mencapai lebih dari 50 persen. 73,24 persen rumah tangga usaha pertanian berada pada level cukup, 18,42 persen di level kurang (rumah tangga usaha pertanian merasa kurang apabila mereka menggantungkan sumber pendapatan dari pertanian saja), sedangkan sisanya masuk kategori lebih dari cukup. Petani seringkali dikonotasikan sebagai sesuatu yang identik dengan kemiskinan. 
Kemiskinan telah dipahami sebagai salah satu persoalaan mendasar yang selalu menjadi perhatian utama pemerintah di setiap negara. Kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan akan sangat bergantung kepada berbagai aspek, salah satunya adalah data kemiskinan yang akurat serta mampu memfasilitasi perbandingan antar waktu dan wilayah. Begitu luasnya dimensi kemiskinan, namun terbukti sulit sekali mengembangkan pengukuran yang dapat menangkap multidimensionalitas ini.
Perkembangan pengukuran kemiskinan sebenarnya mulai mengalami pergeseran yang cukup berarti, hal ini ditandai dengan adanya analisis Human Development Report (HDR) yang dikembangkan oleh United National Development Program (UNDP) dan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI). Sejak tahun 2010, UNDP dan OPHI menyepakati sebuah inisiasi pengukuran kemiskinan baru melalui Indeks Kemiskinan Multidimensi (multidimensional poverty index) yang dimuat dalam HDR 2010. Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) melihat struktur kemiskinan lebih luas, bukan sekedar pendapatan atau konsumsi tapi mendefiniskan secara multidimensi seperti keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan dan kualitas hidup. (IKM) mengukur kekurangan (deprivation) setiap individu ke dalam 3 dimensi yaitu kesehatan, pendidikan dan standar hidup.
Rumah tangga pertanian di Provinsi Jambi yang terkategori miskin multidimensi mencapai 15,59 persen diikuti 22,55 persen rentan untuk menjadi miskin multidimensi. Khusus di subsektor perkebunan yang katanya menjadi andalan pertanian Jambi, terdapat 15,44 persen rumah tangga tergolong miskin multidimensi dan 22,94 persen rentan miskin. Rumah tangga pertanian yang mengandalkan subsektor pertanian lain selain perkebunan dipastikan mengalami kerentanan lebih tinggi untuk menjadi miskin multidimensi. Demikian hasil survey yang dilakukan BPS dalam rangkaian kegiatan Sensus Pertanian.
Kerentanan suatu rumah tangga pertanian menjadi semakin mengkhawatirkan jika melihat Nilai Tukar Petani (NTP) yang tidak terlalu menjanjikan. Sebagai sebuah ratio antara suatu nilai yang “diterima” dengan yang harus “dibayar” oleh petani maka setidaknya bernilai diatas 100 dalam skala indeks. Meskipun bukan sebuah indikator yang tepat untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan petani, NTP yang cenderung rendah (dibawah nilai100: lihat Berita Resmi Statistik, BPS Provinsi Jambi) akan menggerus proporsi rumahtangga pertanian dengan tingkat kecukupan pendapatan yang berada di level cukup baik. Jika ini terus berlanjut maka bukan tidak mugkin rumah tangga yang rentan miskin akan menjadi rumah tangga pertanian miskin secara multi dimensi. 
Kapasitas adopsi teknologi oleh petani yang relatif rendah (baik secara teknis maupun terlebih lagi secara ekonomi) merupakan ganjalan yang paling sering dihadapi dalam proses difusi teknologi. Kegiatan budidaya pertanian adalah kegiatan bisnis. Petani harus dilihat sebagai pebisnis. Keuntungan finansial merupakan unsur yang efektif memotivasi petani untuk meningkatkan kinerja. Dengan demikian maka pengelolaan agroekosistem pertanian hanya akan berhasil jika kesejahteraan petani merupakan bagian utama dari skenario besarnya.
Walaupun beberapa pihak menyatakan kita telah mencapai kembali status swasembada pangan, namun kesejahteraan petani tanaman pangan pokok tidak menjadi lebih baik. Keberlanjutan upaya pencapaian swasembada pangan akan sangat rapuh jika pengabaian upaya menyejahterakan petani tetap berlanjut. Gejala ini sudah mulai menampakkan diri misalnya minat tenaga kerja untuk berkiprah di sub sektor tanaman pangan semakin menurun. Minat lulusan sekolah menengah atas untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di bidang ilmu pertanian juga semakin merosot. Maknanya dalam jangka panjang akan sulit mencari para aktor pelaku produksi pertanian, tanaman pangan khususnya. 
dimuat dalam OPINI harian Jambi Independent, Senin 16 February 2015

buku ketiga

Analisi model Input Output (IO) memusatkan perhatian pada perekonomian dalam sebuah kondisi ekuilibirium dan model ini merupakan varian terb...